Marketing atau Engineer ?

Beberapa waktu yang lalu sewaktu diadakan meeting kecil di kantor pusat, pimpinan baru langsung nembak untuk pilihan konversi ke engineer atau marketing. Meskipun rencana ini sudah tercetus sudah lama, namun ketika tiba waktunya tetap saja menjadi sebuah dilema. Mau jadi engineer atau marketing ?

Sebelumnya memang status adalah sales engineer. Ya jadi sales ya jadi engineer. Sebuah posisi yang menurutku cukup enak, semua hal dikerjakan sendiri, mulai dari kegiatan marketing, “ngamen”, bikin proposal, deal hingga kegiatan berbau teknis sampai pasang perangkat ke customer dan troubleshooting. Semua ilmu dari marketing dan engineering bisa didapat. Semua jurus lobi sampai panjat tower otomatis diserap. Tapi tetap saja kerja borongan seperti itu tidak lepas dari sisi minus. Dari sisi sales target jadi sering meleset dan dari sisi engineer juga terkadang ada kendala (tapi kebanyakan melesetnya di sales hehehe).

Itulah latar belakang konversi. Biar lebih fokus. Jadi pilih yang mana ? Sales atau Engineer ? OK, ini beberapa pandangan sangat subyektif menurutku.

Jadi Sales
adalah profesi yang dulu aku tidak pernah pikirkan sama sekali. Tidak berbakat di jalur itu, pasti itu alasannya. Takut dengan target yang tidak tercapai, salah satu kekhawatiran. Pressure dari boss soal target, laporan harian, mingguan, bulanan ? itu pasti. Ada sisi lain dari marketing yang pastinya menyenangkan : seni. Marketing adalah seni. Seni bagaimana kita bisa membuat calon customer terpesona dengan produk yang ditawarkan dan menjadi customer. Menjadi customer bukanlan tujuan akhir. Tidak ada tujuan akhir dalam dunia bisnis layanan dan jasa. Setelah menjadi customer, bagaimana caranya agar customer tetap bertahan menggunakan layanan, bagaimana caranya agar customer menambah layanan yang lain, bagaimana caranya agar customer mau mengajak perusahaan yang lain ikut menjadi customer. Pastilah membutuhkan lebih dari sebuah proposal yang eye-catching dan telemarketing. Itulah seninya.

Jadi Engineer
salah satu pekerjaan yang menjadi citacita sejak kecil (meski dulu tidak pernah tahu kalau namanya engineer, lebih dikenal dengan insinyur). Sebagai stand alone support dan 24jam support, masalah yang terberat adalah bukan masalah teknis, namun masalah non teknis : tidak bisa cuti ! yap. kalaupun cuti memang diijinkan, tapi customer tidak mau tahu apakah kita cuti atau tidak cuti. Komplain tetap saja masuk.

Meski orangtua dulu bekerja dilingkungan non teknis, namun pendidikan non formal yang diberikan Bapak dulu di rumah kebanyakan adalah pendidikan teknis. Dimulai dari memegang senter saat Bapak mereparasi mobil sendiri. Hampir tiap hari disuguhi dengan adegan2 teknis yang dilakukan oleh Bapak, sehingga anak2nya tidak ada yang memilih karir kantor Bapak. Syukurlah Bapak orang yang sangat demokratis. Apapun jalur pendidikan yang yang ditempuh anak2nya, diamini oleh Bapak Ibuk. Dan Bapak tidak ‘gelo’ tidak ada yang mewarisi dan melanjutkan karir di kantor saat pensiun. Jadi semua buku2 yang berbau hukum tidak ada yang menyentuh selain Bapak sendiri. Sayang …

Jadi kesimpulannya, dunia engineer terasa sudah mendarah daging, ibaratnya bagiku sangat mudah membuka sekerup dengan sebuah palu, daripada tawar menawar harga dengan customer. Jadi kenapa meskipun banyak pertimbangan, memilih Marketing sebagai jalur karir ? Karena seni. Karena ilmu. Kalau dunia engineer sudah mendarah daging dan lebih bisa belajar tanpa ada kasus, maka tingkatkan ilmu lain yang masih lemah. Dunia marketing dan dunia sosial adalah ilmu yang masih lemah dan perlu belajar banyak. Jadi kapan lagi bisa mendalami kalau tidak sekarang ? Seperti halnya dunia Ngoprek, file HOWTO memang penting, tapi banyak baca HOWTO tetap saja menimbulkan pertanyaan How To kalau tidak dipraktekkan. Buku tentang marketing dan sosialisasi memang banyak, tapi tanpa praktek sama saja.

YOU CAN !! (kata Andre Wongso di buku ku + tandatangannya + fotonya)

aw.jpg

hahaha fotonya ikut2an pak dr. Tito

yucan.jpg
YOU CAN !

Tinggalkan Balasan