Ahli Syukur

Aku tidak tahu nama lengkapnya, cuma aku, ibu, istri biasa memanggil pak Yed atau pak Yedi. Beliau bekerja di sebuah hotel kecil di Semarang, kata beliau hotel tempat bekerjanya memang kecil namun terletak di tengah kota dan bersih dari kegiatan esek2. Yang ingin aku ceritakan di sini adalah mengenai kebiasaan pak Yed.

Beliau biasa bangun sebelum subuh. Begitu adzan subuh, beliau langsung berangkat ke masjid, bukan ke musholla yang sebenarnya lebih dekat dari rumah. Ketika keluar, terdengar suara pintu dan jendela rumahnya yang khas. Terdengar jelas dari rumahku. Beliau ke masjid selalu sendiri, tidak bersama bu Yed. Langkahnya ke masjid sangat cepat. Lumayan cepat untuk orang seusia beliau, mungkin umur sekitar 60 an, mungkin karena beliau terbiasa ke tempat kerja naik sepeda jengki warna merahnya.

Setelah sampai di masjid, beliau sholat sunnah tahiyyatul masjid dan setelah itu dimulai sholat subuh berjamaah. Kalau nggak salah beliau selalu mengambil tempat dibelakang imam, tapi tidak pernah menjadi imam masjid itu, itu yang kutahu. Setelah sholat subuh selesai dan salam, beliau langsung pindah tempat ke saf ke 4 atau 5 di pinggir kiri menghadap ke utara. berdzikir dan berdoa. Setelah itu, entah kenapa beliau tidak pernah mengikuti  ceramah / kuliah subuh, selalu setelah berdoa beliau langsung pulang. Begitu sampai di rumah, beliau langsung tadarus. suaranya keras terdengar sampai di rumahku. setelah tadarus, sekitar setengah enam baru mulai terdengar suara televisi. Berita pagi.

Yang menyenangkan adalah, beliau sangat senang sekali dengan anak2 kecil. Anak2 pak Agus memanggilnya dengan Dhe, dan mereka senang bersenda gurau dengan pak Yed. Pak Yed memang orang yang senang sekali bersyukur. Apapun kondisinya kalau bercerita denganku selalu tidak lupa mengucapkan syukur. Alhamdulillah. Dan senyum. padahal kalau melihat kondisi rumahnya, mungkin kita trenyuh. Keterlaluan kalau kita nggak bersyukur. Tapi itulah beliau. Syukur, senyum.

pada suatu hari, dari jendela, aku lihat Pak Yed berdiri di dalam rumah memandang (melamun) ke arah luar (pintunya memang bisa dibuka separo atas / bawah). raut mukanya jauh berbeda dari biasanya. seperti kurang berseri / bercahaya. agak murung. aku baru tahu kalau beberapa hari sebelumnya beliau masuk rumah sakit beberapa hari. kok aku nggak tahu ya. memang sosialisasiku di kampung memang kurang. kondisi fisiknya terlihat jauh menurun.

pada Ramadhan tahun 2004 beliau meninggal, waktu itu aku sedang di Jakarta. aku tidak bisa melayat. beliau meninggalkan seorang istri, dan tidak mempunyai putra. Dari cerita budhe, dulu beliau pernah punya putra, namun meninggal karena polio. Waktu itu terlihat beliau sangat bahagia sekali dengan putranya. Tidak heran begaimana senangnya punya seorang putra, karena sekarang aku mengalami sendiri bagaimana bahagianya punya seorang putri. Mungkin itu mengapa beliau sangat suka sekali dengan anak2 kecil.

Kalau aku subuhan, pasti aku selalu ingat kebiasaan beliau. Dulu beliau pernah bilang tentang ganjaran orang yang selama 40hari melakukan subuhan berjamaah di masjid. Tapi aku lupa. Semoga beliau diterima di sisi Allah SWT, karena beliau orang yang sabar dan ahli syukur.


Tinggalkan Balasan